Kondisi geografis wilayah pesisir Kabupaten Aceh Besar kini sedang menghadapi tantangan alam yang cukup serius akibat fenomena perubahan iklim yang ekstrem. Masalah Abrasi Pantai dilaporkan semakin meluas di beberapa titik desa nelayan, di mana pengikisan daratan oleh gelombang air laut sudah mencapai batas yang sangat dekat dengan rumah-rumah penduduk. Fenomena ini menjadi beban pikiran tambahan bagi warga yang sedang menjalankan ibadah puasa, karena mereka harus tetap waspada terhadap potensi kerusakan bangunan akibat terjangan ombak besar yang bisa terjadi kapan saja, terutama saat cuaca buruk melanda perairan utara Sumatra.
Dampak dari Abrasi Pantai ini terlihat jelas dari hilangnya sebagian lahan milik warga serta rusaknya vegetasi pelindung pantai yang seharusnya menjadi benteng alami dari terjangan air laut. Beberapa fasilitas umum seperti jalan setapak desa dan sisa-saranan MCK mulai ambruk karena pondasinya terkikis oleh air asin secara terus-menerus. Masyarakat pesisir merasa cemas jika tidak segera dilakukan pembangunan tanggul pemecah ombak yang permanen, maka pemukiman mereka terancam hilang ditelan laut dalam beberapa tahun ke depan. Keresahan ini tentu mengganggu kekhusyukan warga dalam beribadah di masjid-masjid yang lokasinya juga tidak jauh dari bibir pantai.
Upaya penanggulangan bencana akibat Abrasi Pantai ini sebenarnya telah menjadi agenda pemerintah daerah, namun proses realisasinya dirasa masih lambat dibandingkan dengan kecepatan pengikisan lahan yang terjadi setiap harinya. Warga setempat berharap ada langkah darurat seperti pemasangan batu gajah atau karung pasir sebagai solusi jangka pendek guna menahan laju air laut agar tidak merusak pondasi rumah mereka saat libur lebaran tiba. Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk mengalokasikan anggaran mitigasi bencana yang lebih besar bagi wilayah-wilayah kritis di Aceh Besar demi menyelamatkan ruang hidup ribuan warga pesisir.
Selain kerugian secara fisik, fenomena Abrasi Pantai juga berdampak pada sektor ekonomi lokal, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup dari sektor wisata pantai dan perikanan. Keindahan pantai yang dulunya menjadi daya tarik wisatawan untuk berburu takjil kini mulai rusak oleh puing-puing bangunan yang roboh dan sampah laut yang terbawa arus. Kondisi lingkungan yang tidak tertata ini menurunkan minat pengunjung, yang secara otomatis menurunkan pendapatan pedagang kecil di sekitar pantai. Pemulihan ekosistem pesisir melalui penanaman kembali mangrove dan pembangunan infrastruktur pengaman pantai menjadi kebutuhan yang mendesak dan tidak bisa ditunda lagi.
